5 Rahasia Gagal Memulai Usaha

Program Edukasi  “Selasa Berbagi” di TDA Jaktim, sharing Ilmu dari Kang Yana, salah satu sesepuh dan aktivis pergerakan TDA Jaktim ..uhuy…IMG-20151103-WA0010

Perjalanan mengenai bisnis beliau di mulai tahun 1998 yaitu dimana Indonesia lagi gonjang ganjing, krisis ekonomi moneter melanda Asia dan menghancurkan ekonomi Indonesia saat itu dimana PHK terjadi dimana mana yang berakhir pada kerusuhan mei 1998 dengan kejatuhan rezim orde baru.

Bisnis bisnis yang pernah di jalankan yaitu :

  1. Usaha roti bagelen merk Merbabu dari Bandung.
  2. MLM produk penurun berat badan cocok buat yang punya tas pinggang di perut (pasti  member member TDAJaktim kaya Mas Rozak jadi konsumen setianya yaa Kang Yana  hehehehe)
  3. Usaha Burger + Batagor + Siomay (Kontrakdiktif nih ama usaha kedua yang produk penurun berat badan hehehehe).
  4. Usaha Kue basah + Donut ke wilayah perkantoran  (Good Idea nih Kang Yana , cemilan di saat jenuh ama kerjaan, yaaa ndut lagi deh 😛 )
  5. Usaha selimut dari Jepang (untung aja selimut beneran ya, bukan selimut yang lain hehehehe )
  6. Bisnis Topless cantik kolaborasi isinya dengan Ina cookies punya member TDA jaktim lainnya yaitu mas Ahmad Zp
  7. Bisnis Krupuk Seblak Merk krupuk Setan Bandung ( mudah2an jualannya gak di kuburan yaa, karena denger denger omzetnya wow banget, hmmm kok merinding yaa, bau apa sih ini… oohh lagi bulan puasa ternyata 😛 )
  8. Training (usaha yang sedang fokus di geluti Kang Yana saat ini)
  9. dan lain lain (buanyak banget)

Sesuai penuturan di “Selasa Berbagi” tanggal 31 mei 2016.  Menurut Kang Yana ada 5 Rahasia Gagal Memulai Usaha yaitu :

  1. Kurang Ilmu

Saya  sering sukses membuka usaha, akan  tetapi hanya sampai step buka aja, usaha yang di rintis tidak tumbuh akhirnya diputuskan untuk tutup, Pertanyaan terbesar kepada diri saya adalah mengapa mereka bisa berkembang, tapi saya tidak ?

Ada beberapa point yang saya temukan, diantaranya yaitu kurang ilmu. Beberapa rekan saya yang dahulunya sukses, malahan beberapa diantaranya menjadi market leader di areanya. Walaupun Omzetnya besar,  tapi stuck alias tidak berkembang lagi bisnisnya, hal ini karena saat tantangan berganti, Ia enggan belajar, Karena sudah terbiasa sibuk dengan operasional. gak mau move on istilahnya.

 

  1. Tidak Fokus

Pengalaman saya dalam memulai bisnis baru. Ternyata memulai bisnis itu mudah. Saking mudahnya, saya selalu melihat peluang baru itu sayang untuk di lewatkan. Akibatnya, saya coba bisnis baru. Baru nyoba selimut, ada baju muslim model baru beralih ke bisnis tersebut. Baru nyoba seblak, ada kacang dari Makassar. Baru nyoba door to door,.. eh ada ilmu baru jualan via blog.

Pada akhirnya semuanya saya coba bersamaan tanpa management yang kuat, yang membuat semuanya jadi bubar. Sebagai seorang pemula, umumnya memang tidak memiliki management yang kuat, karena semua kita lakukan sendiri. Oleh karena itu fokus menjadi sangat penting. Entah itu fokus dalam menentukan jenis bisnis ataupun produk, serta fokus dalam strategi marketing.

Sebaiknya Lakukan tes dan ukur satu jurus, lalu satu jurus lainnya secara bertahap. Buatlah evaluasi dan temukan bisnis atau jurus yang gue banget. Gunakan kekuatan / potensi yang ada di diri kita.

Saat ini saya memutuskan untuk fokus di dunia training. semua peluang diluar training saya tutup mata dan bilang “NO” tapi ternyata peluang yang begitu banyak dari dunia training datang menghampiri. Mulai dari trainer, konsultan, EO, fasilitator, jadi bisnis representatif atau perwakilan seorang trainer besar, bahkan menulis buku. Baru kemaren saya berdiskusi dengan salah satu coach saya untuk memilih dari sekian banyak pilihan yang ada tentang urusan Fokus ini. jadi godaan untuk tidak fokus itu selalu datang kapan saja dari mana saja.

  1. Follow other

Kata orang Sunda “tuturut munding”, Artinya ngikutin kerbau.  Kerbau ke comberan ngikut, kerbau bajak sawah ngikut, nanti kerbau mules ikut juga mules.

Pengalaman saya, umumnya setiap orang, apalagi pengusaha pemula selalu mempunyai tokoh atau role model. Seperti saya, saat di awal-awal saya begitu terpesona oleh Pak Roni dengan Manet nya, Pak Haji Alay dengan bisnis di Tanah Abang, Pak Hadi Kuntoro, TDW, Pak Rosihan dengan Saqina.

Yup mereka hebat dan memang merupakan sumber inspirasi. Tapi sesungguhnya tidak ada kewajiban untuk mengikuti mereka. Belajar dengan banyak guru maestro sangatlah bagus. Tapi tetap, kita sendiri yang harus merumuskan jalan sukses kita,belum tentu dengan mengikuti jalan guru-guru kita maka kita akan menjadi sukses. Kisah sukses guru kita adalah kisah mereka. Tapi kisah kita, harus kita ciptakan sendiri.

  1. Latah

Jika tidak mengikuti tokoh yang kita kagumi. Rasanya ada yang kurang, sehingga Kadang kita latah. Contohnya saat saya berjualan selimut Jepang. Kenapa juga saya harus jualan selimut ?  Kalo dipikir-pikir sih saya tidak minat jualan selimut.Tapi sekeliling saya kok kayanya keren ya… semua pada jualan selimut. Kayanya gampang jualan selimut itu, Akhirnya saya memutuskan untuk ikutan, dan bener setelah ambil selimutnya saya pusing gimana jualannya. Karena ilmu nya kurang, sehingga keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang emosional. Hanya ikut-ikutan. Ikut trend bisnis boleh. Bahkan sangat penting mengikuti trend. Tapi sekali lagi, pake ilmu. Jangan pake nafsu.

  1. Bendera Putih (mudah menyerah)

Untung sih baru bendera putih, alias menyerah, yang gawat bendera kuning, udah ga akan bangkit lagi. Ya.. sebagai pemula yang kurang ilmu. hanya semangat menggebu di awal. Semangatnya seperti orang lari sprint, padahal bisnis itu marathon. Walapun bisnisnya musiman, tapi kenyataannya tetap merupakan kerja dari periode panjang.

Coba tanya Pak Achmad apakah hanya 1 – 2 hari saja berbisnis kue lebaran, saat mau lebaran. Tidak… persiapannya justru dilakukan jauh sebelum masuk bulan Ramadhan.

Saat saya baru nyoba jualan sop buah sebentar berhenti, baru nyoba optimasi fb, sebentar berhenti. Ah ini tidak cocok buat saya. Padahal seharusnya saya mencoba lebih lama, agar bisa mengevaluasi. Apa yang harus diperbaiki.

Ada yang berbisnis katanya pake ilmu jalanan. Street Marketing. Ya… belajar sambil berjalan. Kita hanya bisa belajar, kalo kita mau melakukan evaluasi. Dan kita hanya bisa melakukan evaluasi, kalo kita mencoba untuk suatu periode tertentu. Berapa lama? 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun…? Tergantung. Apa yang kita lakukan. Bagaimana cara evaluasinya. Di sosmed mungkin dalam 1-2 sudah bisa di evaluasi. Apakah action yang kita lakukan ok atau tidak. Tapi mengevaluasi suatu bisnis ok atau tidak? rasanya tidak bisa dalam waktu-1-2 hari.

Agar tidak gampang ngasih bendera putih di suatu bisnis baru. Ada baiknya kita cek diri kita. Kenapa kita berbisnis? Apa motivasinya? Apa alasannya? Apa keunggulan kita? Apa minat kita? Kalo jawaban-jawabannya mendukung bisnis yang kita pilih, biasanya daya tahan kita akan cukup kuat untuk bertahan. Tapi kalo sebaliknya, biasanya akan sangat mudah para pemula untuk menyerah.

Demikian hasil sharing ilmu dari kang yana untuk, semoga bisa bermanfaat untuk warga pembaca ataupun warga TDAJaktim yang kelewat mengikuti sharing ilmu “ Selasa Berbagi”. Untuk yang masih bingung mau usaha apa, bisa daftar jadi member TDA jaktim  sehingga bisa di mentoring bisnis oleh Kang Yana untuk bisa cepat membuka bisnis. doi jagonya dalam hal cepat membuka bisnis baru….hehehehehe

Sekian dulu ya, Salam manis untuk kamu yang manis dari saya yang jauh lebih manis… ! hehehehe

(Mas Kukuh)

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>